Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag.1): Azab Mengerikan Bagi Al-Muthaffif
Pembaca sekalian, tadabbur Al-Qur’an kita saat ini telah mencapai surah Al-Mutaffifin (الْمُطَفِّفينَ), yaitu surah yang berada pada nomor 83 dalam urutan mushaf Utsmani. Nama lain surah ini adalah surah ويل للمطففين sesuai dengan ayat pertamanya, atau surah التطفيف. Surah ini adalah surah yang memiliki 36 ayat.
Ulama tafsir berbeda pendapat apakah surah ini termasuk golongan Makkiyah atau Madaniyah, atau sebagian Makkiyah dan sebagian Madaniyah. Imam Qurthubi dan Zamakhsyari menyatakan bahwa ini adalah surah Makkiyah, sedangkan Imam Muqatil dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah. Adapun Ibnu Abbas dan Qotadah menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah, kecuali 8 ayat terakhirnya.
Ulama yang mengatakan surah ini adalah Makkiyah beralasan bahwa uslub (gaya bahasa) dan tema yang dipaparkan adalah khas tema Makkiyah, yaitu dengan menggunakan gaya bahasa yang lugas dan tegas, serta tema bahasa yang berputar pada pembahasan akidah dan hari kiamat.
Sedangkan ulama lain yang berpendapat bahwa surah ini Madaniyah dikarenakan melihat awal surah yang membicarakan tentang kecurangan dalam timbangan. Sebagian sahabat mengatakan bahwa dahulu, sebagian orang Yastrib adalah pedagang yang sering curang dalam timbangan, mengurangi takaran ketika seseorang membeli barang dari mereka. Ketika disamapikan ayat ini kepada mereka, takutlah mereka, kemudian berhentilah mereka dari tindakan curang ini.
Allah membuka surah ini dengan pengumuman atas siksa yang sangat mengerikan bagi orang yang curang dan culas dalam timbangan. Setelah itu, Allah berbicara tentang keadaan dua golongan manusia, yaitu manusia yang selamat dan yang sengsara dalam kehidupan akhiratnya. Selanjutnya diceritakan tentang berbagai kenikmatan yang didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah, yang menjadi motivasi agar semakin semangat beramal saleh, mencari apa yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Terakhir, surah ini bercerita tentang bagaimana Allah memberikan balasan setimpal bagi para kafirin penjahat yang menzalimi kaum muslimin di dunia. Di dunia, mereka bisa menyakiti kaum muslimin dan tertawa atas kesulitan yang dihadapi; maka di hari kiamat, Allah balik keadaannya, kaum muslimin akan menyaksikan dan tertawa-tawa melihat orang-orang kafir dibakar dan disiksa malaikat dengan siksaan yang mengerikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ
“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 1)
Allah siapkan azab dan balasan yang mengerikan bagi orang-orang yang curang dan culas dalam memberikan takaran dan takaran ketika berjual-beli. Allah Ta’ala membuka surah dengan pernyataan yang sangat keras dan “mengagetkan” untuk memberikan penekanan bagi buruknya perilaku ini. Perilaku culas dalam timbangan ini telah menyebar luas di kota Mekah dan kota Madinah, mereka mengurangi timbangan sehingga tidak genap takaran sesuai perjanjian jual beli mereka.
Kata وَيْلٌ dimaknai dengan kecelakaan yang besar, dosa yang besar bagi penjahat yang melakukan perbuatan ini. Akan tetapi, sebagian ulama lain mengatakan wail adalah salah satu lembah di neraka. Lembah ini berisi penuh dengan nanah dan darah yang keluar dari luka penghuni neraka yang disiksa oleh para malaikat. Orang-orang yang curang dalam dagangan akan mendapatkan siksaan meminum nanah ini, sehingga hancurlah usus mereka karena saking busuknya.
Para ulama menjelaskan bahwa tindakan curang yang dilakukan di sini berlaku baik kecurangan itu sedikit atau banyak. Dikarenakan kata muthaffif diambil dari kata at-tathfif yang artinya sesuatu yang kecil dan remeh temeh. Akan tetapi, jika sudah berusaha sekuat tenaga untuk adil dalam memberikan takaran, kemudian ternyata kurang dikarenakan adanya ralat pada alat dan semisalnya, semoga hal ini dimaafkan oleh syariat.
Diriwayatkan bahwa zaman dahulu di kota Yastrib (yang akan menjadi kota Madinah), terdapat seorang yang bernama Abu Juhainah. Dia memiliki dua buah timbangan atau takaran, satu besar dan satunya lagi kecil. Ketika dia kulakan membeli gandum atau kurma misalnya, dia akan meminta menggunakan timbangan yang besar, agar mendapatkan lebih banyak. Akan tetapi, jika menjual kembali, dia akan menjual menggunakan timbangan yang lebih kecil, agar mendapat keuntungan yang besar.
Maka orang semacam ini adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi rasa tamak atas harta dunia. Terdapat riwayat Imam Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, bahwa Nabi telah memperingatkan dengan hadisnya,
خمس بخمس: ما نقض قوم العهد إلا سلط الله عليهم عدوهم، وما حكموا بغير ما أنزل الله إلا فشا فيهم الفقر، وما ظهرت فيهم الفاحشة إلا فشا فيهم الموت، ولا طفّفوا الكيل إلا منعوا النبات، ولا منعوا الزكاة إلا حبس عنهم المطر
“Lima perbuatan keji akan dibalas dengan lima balasan yang mengerikan : (1) Tidaklah suatu kaum mengkhianati perjanjian, kecuali akan Allah buat musuh-musuh mengalahkan mereka. (2) Tidaklah suatu kamu berhukum dengan selain hukum Allah, kecuali Allah akan turunkan kemiskinan yang menghimpit kehidupan mereka. (3) Tidaklah suatu kaum menampakkan kekejian (zina dan semisalnya), kecuali Allah akan datangkan kematian kepada mereka. (4) Tidaklah mereka curang dalam takaran, kecuali Allah akan buat paceklik, bumi tidak mau menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di atasnya. (5) Tidaklah mereka menahan harta zakat, kecuali langit akan menahan tetes hujannya sehingga membuat bumi kekeringan.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ , وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ
“(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 2-3)
Pada ayat ini, Allah jelaskan dengan gamblang siapa al-muthaffif ini, yaitu orang-orang yang ketika menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dengan takaran yang penuh. Akan tetapi, jika menakar untuk orang lain, mereka akan memberi takaran yang kurang.
Menariknya dari ayat ini adalah Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس yang menunjukkan bahwa perbuatan buruk mereka bukan perbuatan buruk biasa, akan tetapi dilakukan dengan cara pemaksaan, ketamakan, dan kezaliman. Menunjukkan pula bahwa mereka yang curang ini adalah para orang-orang kaya dan berkuasa, karena bisa curang dengan cara paksaan. Ketika orang-orang kecil membeli dari mereka, mereka kurangi dengan paksaan, karena merasa orang kecil ini tidak bisa membalas perbuatan mereka.
Dalam tafsir Al-Kasyaf dijelaskan pula mengapa Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس adalah karena tindakan menakar mereka adalah tindakan menakar yang merugikan banyak orang, sarat atas paksaan dan menghimpit ekonomi orang lain. Sehingga Allah menggunakan kata عَلَى yang memiliki makna hal yang berat. Perubahan satu huruf ini ada untuk menyingkap tabir kezaliman dan rasa tamak di balik perilaku tersebut.
Sejatinya jika kita buka lebih jauh, al-muthaffif atau orang yang curang ini tidak hanya terbatas kepada takaran dan timbangan dalam jual beli, akan tetapi masuk kepada semua hal yang berkaitan dengan hak dan kewajiban antar manusia, bahkan mungkin dalam hubungan antara manusia yang meminta kepada Allah.
Kita berikan contoh, seorang karyawan yang menuntut pembayaran gaji bulanan dan hak yang penuh atas hasil kerjanya. Akan tetapi, dirinya bekerja dengan banyak kekurangan, tidak profesional, tidak amanah, mengurangi jam kerja, dan semisalnya, maka hal seperti ini juga berhak mendapatkan hukuman berat seperti pada ayat tersebut.
Kebalikannya juga berlaku, seorang saudagar pemilik usaha memerintahkan karyawan untuk bekerja dengan giat untuk perusahaan, target-target besar dipasang, menuntut untuk bekerja dengan sangat baik. Akan tetapi, ketika waktu membayarkan gaji karyawan dia kurangkan nominal yang telah dijanjikan, dengan berdalil penuh kebohongan dan kezaliman “ini potongan untuk program A, ini untuk B, ini untuk C”, bahkan terlambat memberikan gaji sehingga sang karyawan harus berhutang sana sini untuk sekedar menyambung hidup.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ
“Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 4)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan celaan besar kepada para orang-orang yang curang tersebut, mengkhianati amanah, merusak tatanan kehidupan dan ekonomi manusia. Apakah kalian, wahai orang-orang yang curang, merasa akan bisa selamat dari azab Allah? Apakah kalian merasa tidak akan dibangkitkan di kehidupan akhirat, sehingga kalian tidak perlu bertanggungjawab dengan perbuatan busuk kalian? Apakah kalian akan dibiarkan saja memakan harta orang lain dengan cara yang haram? Dibiarkan berfoya-foya, menimbun kekayaan dengan kebusukan “korupsi” curang dalam timbangan?
Renungkanlah bahwa kalian akan dibangkitkan, itu adalah hal pasti. Dengan mengingat ini, seharusnya seseorang bisa mengerem nafsu tamak yang ada pada dirinya, mengikis rasa serakah, mengkerdilkan perasaan cinta dunia yang ada pada hatinya, kemudian berbuat adil dalam timbangan. Dirinya sadar bahwa harta haram malah akan menyeretnya sangat dalam ke perut neraka Jahanam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ , يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ
“Pada suatu hari yang besar (kiamat), (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 5-6)
Inilah hari dimana umat manusia akan berdiri di hadapan Allah, tidak menggunakan alas kaki, tidak berpakaian satu helai benang pun, semua berada dalam ketakutan terbesarnya. Mereka menunggu sebuah pengadilan yang sangat berat, menanti kepastian urusan mereka, menunggu bagaimana harta yang mereka dapatkan di dunia akan diaudit oleh Rabb semesta alam, apakah dari jalan yang halal atau yang haram. Semoga Allah berikan keselamatan kepada kita semua.
[Bersambung]
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Artikel asli: https://muslim.or.id/116318-tafsir-surah-al-mutaffifin-1.html